Di dalam penjara bawah tanah Kota Huoling, udara terasa lembap dan pengap. Cahaya lentera yang redup menerangi sosok seorang pria yang duduk bersandar pada dinding batu, tangannya terikat dengan rantai besi tebal.

Huo Zhen.

Dia adalah kepala keluarga Huo cabang Kota Huoling, seorang pria yang disegani dan ditakuti. Namun kini, setelah pemberontakannya dan kalah, kekuatannya telah disegel oleh murid-murid Sekte Api Langit. Tanpa akses ke energi spiritualnya, dia tak lebih dari manusia biasa yang tak berdaya.

Suara langkah kaki bergema di sepanjang lorong sempit. Pintu sel terbuka, menampilkan Walikota Huoling, diikuti oleh Lynx, Ling Mei, Li Wei, Zhen Huan, dan beberapa murid Sekte Api Langit.

Begitu melihat siapa yang datang, mata Huo Zhen langsung dipenuhi amarah. Dengan gerakan tiba-tiba, dia mencoba berdiri, tetapi rantai di pergelangannya menahan tubuhnya tetap di tempat.

"Walikota!" Huo Zhen meludah ke tanah, wajahnya penuh kebencian. "Jadi akhirnya kau datang! Apa kau ingin memastikan aku menderita di tempat ini, hah? Kau sudah menang, untuk apa repot-repot menemuiku?"

Walikota tetap tenang. "Aku tidak datang untuk memperburuk keadaanmu, Huo Zhen."

Huo Zhen tertawa mengejek. "Hah! Omong kosong! Sejak kapan kau peduli padaku? Kau sudah merampas segalanya dariku, dan sekarang kau ingin berpura-pura baik?"

Li Wei, yang berdiri di sebelah ayahnya, mengepalkan tangan. "Kepalamu benar-benar batu! Kami datang bukan untuk membahas perselisihan lama!"

"Kalau begitu untuk apa?" Huo Zhen menatap mereka dengan tajam.

Walikota menatapnya dalam-dalam. "Aku ingin bertanya tentang artefak yang ada di ruang rahasia rumahku. Aku tahu kau mengetahui sesuatu saat  masuk kesana bersama Grandmaster yang membantumu. Katakan padaku, siapa yang mencurinya?"

Huo Zhen terdiam sejenak, lalu mendengus. Dia bersandar ke dinding dengan ekspresi penuh ejekan, lalu tertawa keras.

"Kau yang kehilangan artefak itu?" Dia menatap Walikota dengan sinis. "Jadi apa urusannya denganku? Kamu carilah sendiri. Apa kamu pikir aku tidak tahu jika kamu menginginkan artefak itu untuk ditukar dengan istri dan anakmu yang sudah mau mati itu." katanya sambil tertawa. Dia belum mengetahui apa yang telah terjadi dan mereka tidak berniat untuk memberitahunya.

Para murid Sekte Api Langit yang mendengar itu mulai kesal. Salah satu dari mereka maju selangkah. "Jangan bermain-main, Huo Zhen! Jika kau tahu siapa yang mencurinya, lebih baik kau katakan sekarang!Waktu kita tidak banyak."

Huo Zhen menyeringai. "Dan jika aku tidak mau?"

Walikota menghela napas, lalu dengan suara berat berkata, "Huo Zhen, kamu harus tahu, masalah kali Ini bukan hanya tentang aku atau kau. Artefak itu telah dibuka oleh orang yang telah mencurinya."

Huo Zhen masih tampak tidak peduli. "Lalu kenapa? Kau takut seseorang akan menggunakan isinya untuk menjatuhkanmu?"

Walikota menggeleng. "Tidak. Tapi perbuatan orang itu telah melepaskan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibuka."

Huo Zhen mengernyit.

"Kota ini sekarang dalam bahaya," lanjut Walikota. "Saat artefak itu dibuka, maa energi iblis yang ada didalam artefak itu akan menyerbu keluar. Kini energi iblis telah menyebar dan mengubah penduduk menjadi liar dan agresif. Mereka kehilangan kendali atas diri mereka sendiri, menyerang siapa saja yang ada di dekat mereka. Ini bukan sekadar kekacauan biasa, ini bencana."

Huo Zhen tetap diam beberapa detik sebelum tertawa pelan. "Lalu apakah aku seharusnya peduli?"

Li Wei mendengus. "Tentu saja kau tidak peduli! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!"

Huo Zhen menatapnya dengan sinis. "Kenapa aku harus peduli pada nasib penduduk kota ini? Mereka bukan keluargaku. Mereka bukan tanggung jawabku."

Walikota menatapnya dengan dingin. "Apakah menurumu keluarga Huo tidak ikut mengalaminya?."

Senyuman Huo Zhen langsung lenyap.

Walikota melanjutkan dengan nada berat, "Orang-orangmu, keluarga Huo, mereka juga terkena dampak energi iblis ini. Mereka sekarang bersembunyi di kediamanku bersama penduduk yang selamat."

Huo Zhen membeku. Matanya melebar sedikit, ekspresinya berubah dari angkuh menjadi serius.

"Keluarga Huo… terkena dampaknya juga?" suaranya sedikit bergetar.

Li Wei mengangguk. "Ya. Jika kita tidak segera menemukan solusinya, mereka juga bisa kehilangan akal sepenuhnya."

"Aku tidak percaya. Kamu pasti membohongiku." Huo Zhen marah setelah memikirkan tipu daya yang dilakukan walikota untuk mendapatkan informasi darinya.

"Kamu tidak percaya?Menurutmu, suara ribut apa yang dari tadi terdengar hingga ketempat ini? Itu adalah teriakan kesakitan, kemarahan dari orang-orang yang terkena energi iblis, dan jika kita tidak segera mengatasinya, maka semua akan terlambat. Kota ini, bahkan dunia ini akan berada didalam kekacauan jika tidak kita hentikan segera." Kata Walikota berusaha membujuk.

Huo Zhen mengepalkan tangannya, ekspresinya muram. Dia menunduk, wajahnya tertutup bayangan lentera yang berkelip-kelip.

Setelah beberapa saat, dia menghela napas panjang.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan memberitahu kalian apa yang kutahu. "

Semua orang menajamkan pendengaran mereka.

Huo Zhen mengangkat kepalanya, matanya serius. "Saat aku masuk ke ruang rahasia tempat artefak itu disimpan, memang aku merasakan ada sesuatu yang aneh… Aku mencium aroma yang aku sangat kenali dengan baik."

Zhen Huan menyipitkan mata. "Aroma?"

Huo Zhen mengangguk. "Aroma parfum wanita. Dan aku mengenalinya. Itu milik… Nyonya Chen Xue."

Suasana di ruangan itu langsung berubah.

Ling Mei mengernyit. "Nyonya Chen Xue? Pemilik Paviliun Seribu Rasa?"

Huo Zhen mengangguk. "Aku yakin itu adalah aromanya. Aku sering berurusan dengannya di masa lalu. Parfum itu adalah racikan khusus yang hanya dia pakai. Dan selama di kota ini, aku belum pernah mencium aroma itu dari orang lain."

Lynx bertukar pandang dengan Zhen Huan.

"Jadi dia yang mencuri artefak itu…" gumam Li Wei.

Li Wei dan walikota yang berada di ruangan itu tampak terkejut. Mereka semua tahu bahwa Nyonya Chen Xue adalah wanita bisnis yang dihormati. Tidak ada yang pernah mencurigainya terlibat dalam hal-hal seperti ini.

Namun berbeda dengan Zhen Huan, dia berpikir berbeda."Ternyata ini tujuan wanita itu selama ini. Seharusnya aku menyadarinya dan memperingatkan walikota tentang hal ini." batinnya.

Sebagai organisasi yang sangat besar, Zhen Huan sudah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki setiap pengusaha yang ada di daerah mereka, dan nyonya Chen Xue juga termasuk. Dia mendapatkan berita mengejutkan dari anak buahnya, tetapi mereka belum menemukan alasan dibalik perbuatannya. Zhen Huan hanya menghela napas.

"Lalu apa yang kita tunggu?" kata Ling Mei dingin. "Kita harus segera menangkapnya!"

Namun, sebelum mereka bisa bergerak, Zhen Huan mengangkat tangannya, menghentikan mereka.

"Tunggu dulu," katanya. "Jika memang benar nyonya Chen Xue yang mengambil artefak tersebut, aku memiliki informasi tambahan mengenai dia."

Semua orang menoleh ke arahnya.

Zhen Huan menatap mereka satu per satu sebelum melanjutkan, "Saat aku berada di pasar judi batu tadi sore, aku menerima laporan aneh dari anak buahku. Mereka mengatakan bahwa Nyonya Chen Xue secara diam-diam meninggalkan kota menuju sebuah bukit di luar kota."

Mata Lynx menyipit. "Bukit?"

Zhen Huan mengangguk. "Anak buahku melihatnya bergerak dengan cepat sehingga dia hanya melihatnya sekilas, tetapi dia yakin itu adalah nyonya Chen Xue. Dia pergi sendirian dengan tergesa-gesa, seolah sedang mengejar sesuatu atau ingin segera melakukan sesuatu."

Li Wei mengepalkan tangannya. "Jika dia benar-benar pencurinya, maka kemungkinan besar dia yang sudah membuka artefak itu."

Walikota mengangguk. "Terimakasih atas Informasi ini tuan Zhen. Kita tidak boleh bertindak gegabah. Kita harus kembali ke ruang pertemuan dan menyusun strategi yang tepat."

Li Wei menatap Zhen Huan. "Aku setuju. Jika artefak itu memang telah dibuka, kita harus memikirkan cara untuk menghentikannya dan jangan membiarkannya mendapatkan fragmen senjata iblis tersebut."

Ling Mei mendengus pelan, tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku tidak suka menunggu, tetapi kita memang harus memastikan semuanya sebelum bertindak."

Zhen Huan tersenyum tipis. "Bagus. Kalau begitu, mari kita kembali dan menyusun rencana yang matang."

Dengan itu, mereka meninggalkan penjara, untuk menyusun rencana berdasarkan informasi berharga, yang bisa menjadi kunci dalam menghentikan bencana yang sedang berlangsung.

